Tampilkan postingan dengan label bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahasa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 November 2012

Bahasa Indonesia


                                 BAB 1
                        PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
                Karya sastra melayu klasik yang terlahir di zaman sebelum angkatan 20-an atau balai pustaka dan termasuk kedalam prosa lama ini mulai pudar pesonanya di makan oleh zaman. Dan mulai tergeser kedudukannya oleh karya sastra modern.
Ternyata waktu, bahasa, gaya hidup, perubahan zaman, masuknya pengaruh luar yang sedikit demi sedikit ikut merubah pola adat istiadat Indonesia termasuk faktor – faktor yang mempengaruhi tergesernya kedudukan karya sastra melayu klasik di zaman modern ini.
Tak hanya peminatnya saja yang telah berkurang tetapi para penciptannya atau senimannya juga sudah mulai berkurang. Sejalan dengan bergulirnya zaman
.
1.2  Tujuan Penulisan
- Mendeskripsikan karya sastra Melayu Klasik
- Untuk menambah pengetahuan Serta Wawasan mengenai karya Sastra Indonesia
- Agar mengetahui Ciri – ciri, dan unsur – unsur yang terkandung dalam karya sastra melayu klasik
- membandingkan karya sastra Melayu Klasik dengan karya sasra Modern
1.3 Ruang Lingkup
Karya sastra melayu klasik adalah sebuah topik yang memiliki cakupan pembahasan yang tidak terbatas dan penjabaran yang luas.
Tetapi didalam karya ilmiah ini penulisan hanya mendeskripsikan sebatas :
- Definisi karya sastra melayu
- Mendeskripsikan karakteristi sastra melayu klasik yang terbagi atas ciri – ciri dan sifat – sifat sastra melayu klasik.
- Unsur – unsur yagn terkandung dalam karya sastra melayu klasik.
1.4 Landasan Teori
Karya sastra Melayu Klasik memiliki ciri khas yang berbeda dengan karya sasra Indonesia Modern. Pada awalnya, naskah – naskah itu ditulis untuk kepentingan raja, dinasti, dan kerajaan. Raja dianggap sebagai pusat kesakralan pergaulan hidup yang ”melindungi” masyarakat. Dan sastra melayu klasik terdapat nilai – nilai moral, budaya, nilai – nilai luhur yang lain, yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan. 
Struktur cerita dalam karya sastra melayu klasik sama dengan prosa fiksi, meliputi : plot ( alur ), tokoh, latar (setting), tema, sudut pandang, dan bahasa yang digunakan pengarang.
1.5 Hipotesis
- karya sastra melayu klasik lebih mengutamkan nilai – nilai dan pesan moral.
- Unsur – unsur yang membangun karya sastra melayu klasik sama dengan novel.
1.6 Kata Pengantar

 BAB 2
PEMBAHASAN

1. Karya Sastra Melayu Klasik
                        Sastra Melayu Klasik sudah eksis di tanah air sejak abad ke-16 Masehi. Semenjak itu hingga sekarang gaya bahasanya tak banyak mengalami perubahan.
            Naskah pertama yang tertulis dalam bahasa 
Melayu klasik berupa sepucuk surat dari raja Ternate, Sultan Abu Hayat kepada raja João III di Portugal berangka tahun 1521 Masehi.
            b. Bentuk-Bentuk Karya Sastra Melayu Klasik
                                1. Hikayat
                                Hikayat Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa yang berisikan tentang kisah, cerita, dongeng maupun sejarah. Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian serta mukjizat tokoh utama. Hikayat sering dimulai dengan kata: sumber mula, arkian, syahdan, alkisah, dan tersebutlah. Contohnya : Alkisah Tjetera yang Kedua.
                                2. Gurindam
                                 Gurindam Gurindam adalah satu bentuk puisi Melayu lama yang terdiri dari dua baris kalimat dengan irama akhir yang sama, yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian dan baris kedua berisikan jawabannya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi.
                                 3. Karmina
                                   Populer disebut pantun kilat adalah pantun dua baris. Baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua langsung isi. Memiliki pola sajak lurus (a-a). Biasanya dipakai untuk menyampaikan sindiran ataupun ungkapan secara langsung.
 Contoh:
"Sudah gaharu cendana pula Sudah tahu masih bertanya pula"
                       
4. Pantun
                                      Serupa puisi 4 baris, berciri sajak a-b-a-b attau a-a-a-a. Dua baris awal merupakan sampiran, umumnya tentang alam (flora dan fauna); dua baris ujung bagian isi, sebagai tujuan pantun.
 Contoh:
Kayu cendana diatas batu
Sudah diikat dibawa pulang
Adat dunia memang begitu
Benda yang buruk memang terbuang
                                5. Seloka
                                   Seloka merupakan bentuk puisi Melayu Klasik, berisikan pepetah maupun perumpamaan yang mengandung senda gurau, sindiran bahkan ejekan. Biasanya ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair, terkadang dapat juga ditemui seloka yang ditulis lebih dari empat baris.
Contoh:
Baik budi emak si Randang Dagang lalu ditanakkan Tiada berkayu rumah diruntuhkan Anak pulang kelaparan Anak dipangku diletakkan Kera dihutan disusui
                                    6. Syair
                                    Syair adalah puisi atau karangan dalam bentuk terikat yang mementingkan mengandung arti atau maksud penyair (pada pantun , 2 baris terakhir yang mengandung maksud).
Contoh :
            Dengarkan tuan ayah berperi Kepada Anaknda muda bestari Jika benar kepada diri Masihat kebajikan ayahnda beri Aduhai anakanda muda remaja Jika anaknda mengerjakan raja Hati yang betul hendaklah disahaja Serta rajin pada bekerja Jika anakanda menjadi besar Tutur dan kata janganlah kasar Janganlah seperti orang sasar Banyaklah orang menaruh gusar Tutur yang manis ankanda tuturkan Perangai yang lembut anakanda lakukan Hati yang sabar ankanda tetapkan Kemaluan orang anakanda pikirkan Kesukaan orang anakanda cari Supaya hatinya jangan lari Masyurlah anakanda dalam negeri Sebab kelakuan bijak bestari Jika memerintah dengan cemeti Ditambah dengan perkataan mesti Orang menerimanya sakit hati Barangkali datang fikir hendak mati Inilah nasehat ayanda tuan Kepada anakanda muda bangsawan Nafsu yang jahat anakanda lawan Supaya jangan tertawan HAbislah nasehat habislah kalam Ayahanda memberi tabik dan kalam Kepada orang masihi dan Islam Mana-mana yang ada bekerja didalam.
                            7. Talibun
                                  Talibun adalah sejenis puisi lama seperti pantun karena mempunyai sampiran dan isi , tetapi lebih dari 4 baris ( mulai dari 6 baris hingga 20 baris ). Berirama abc-abc , abcd-abcd , abcde-abcde , dan seterusnya .
Contoh :
Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak beli
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanakpun cari
Induk semang cari dahulu

            c. Unsur – unsur Karya Sastra Melayu Klasik
                Dilihat dari unsur – unsurnya, naskah sastra melayu klasik juga emiliki tema, tokoh, sudut pandang, alur amanat dan nilai – nilai, seperti halnya naskah sastra cerpen dan novel. Setelah anda membaca karya sastra melayu klasik tersebut, tentu kita dapat menemukan struktur atau unsur – unsur karya sastra melayu klasik. Struktur karya sastra melayu klasik hampir sama dengan karya sastra lainnya, seperti tema amanat, alur, tokoh, latar dan sudut pandang.
            Tema adalah dasar cerita sebagai titik tolak pengarang dalam menyususn cerita. Sebelum menyususn cerita, pengarang haruslah menentukan temanya terlibih dahulu.
Amanat adalah pesan – pesan yang ingi disampaikan pengarang kepada para pembancanya.
Alur atau plot adalah struktur penceritaan yang didalamnya berisi rangkaian kejadian atau peristiwa yagn disusun berdasarkan hukum sebab akibat serta logis. Alur tersebut ada yang berupa alur maju, alur mundur, atau alur campuran.
 Pertokohan adalah cara pengarang dalam melukiskan tokoh tokokh dalam cerita yangdiciptakannya. Latar atau setting merupakan tempat, waktu dan keadaan terjadinya suatu peristiwa.
Description: 2556700-706b1d969ca5d49c743d2b9607187cc0.jpegSudut pandang atau point of view adalah bagaimana cara pengarang menempatkan dirinya dalam cerita yang ditulisnya.
            Sudut pandang ini terbagi menjadi dua, yaitu pola orang pertama adalah kata aku, saya, kami, pola orang pertama ini dapat terbagi menjadi tiga macam, yaitu pengarang sebagai tokoh utama, pengarang sebagai pengamat tidak langsung, dan pengarang sevagai pengamat langsung.
            d. Ciri-Ciri Karya Sastra Melayu Klasik
1. Isi ceritannya berkisar pada tokoh raja – raja dan keluarganya ( Istana Senris )
2. Bersifat pralogis, yaitu memiliki logika tersendiri yang tidak sama dengan logika umum, atau disebut juga fantasis.
3. mempergunakan banyak kata arkais misalnya, hatta, syahdan, sahibul hikayat, menurut empuhnya cerita, konon dan tersebutlah perkataan.
4. Tema dominan dalam hikayat adalah petualangan, biasanya di akhir kisah, tokoh utamnya berhasil menjadi raja dan orang – orang yang dimuliakan.
5. Nama pengarang biasanya tidak disebutkan lanonim).

            e. Sifat –Sifat Karya Sastra Melayu Klasik 
1. Sastra lama bersifat komunal yakni milik bersama
2. pada umumnya sastra lama bersifat anonim yakni tidak diketahui nama pengarangnya.
3. Sastra lama bersifat kurang dinamis yakni gerak perubahannya sangat lamban jika dilihat dari sudut masyarakat sekarang, seolah – olah kelihatan statis.
4. Pada umumya sastra lama tidak kurang rasional karena kejadian – kejadian yang digambarkankurang masuk akal.
5. Pada Umumnya sastra lama bersifat istana sentas.
6. Pada umunya sastra lama bersifat didaktis yakni bersifat memberikan pengajaran / pendidikan kepada para pembaca, baik didaktif moral maupun didaktif religius.
7. Pada umumnya sastra lama bersifat seimbolis karena kebanyakan ceritannya disajikan dalam bentuk lambang.
8. Sastra lama bersifat tradisional yakni sifat mempertahankan kebiasaan atau adat untuk tetap
berlaku sesuai dengan keadaan jamannya.
9. Sastra lama bersifat klasik imitatif yaitu sifat kebiasaan tiru meniru yang tetap saja turun temurun.
10. Sastra lama sebenarnya tidak menceritakan manusia tetap menceritakan sifat – sifat universal mausia misalnya sifat – sifat baik, jahat, cerdik bodoh, adil, alim, dan lain sebagainya.

2. Cerita Rakyat
            a. Pengertian Cerita Rakyat
                        Cerita Rakyat adalah sebagian kekayaan budaya dan sejarah yang dimiliki Bangsa Indonesia. Pada umumnya, cerita rakyat mengisahkan tentang suatu kejadian di suatu tempat atau asal muasal suatu tempat. Tokoh-tokoh yang dimunculkan dalam cerita rakyat umumnya diwujudkan dalam bentuk binatang, manusia maupun dewa.
            b. Fungsi Cerita Rakyat
                        Cerita rakyat selain sebagai hiburan juga bisa dijadikan suri tauladan terutama cerita rakyat yang mengandung pesan-pesan pendidikan moral. Banyak yang tidak menyadari kalau negeri kita tercinta ini mempunyai banyak Cerita Rakyat Indonesia yang belum kita dengar, bisa dimaklumi karena cerita rakyat menyebar dari mulut – ke mulut yang diwariskan secara turun – temurun. Namun sekarang banyak Cerita rakyat yang ditulis dan dipublikasikan sehingga cerita rakyat Indonesia bisa dijaga dan tidak sampai hilang dan punah.
            c. Jenis-Jenis Cerita Rakyat
                1. Legenda
            Menceritakan kehidupan seorang tokoh, peristiwa, kejadian, atau tempat.
            Contoh : malin kundang, tangkuban perahu
·        Malin Kundang
                   Malin Kundang adalah kaba yang berasal dari provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Legenda Malin Kundang berkisah tentang seorang anak yang durhaka pada ibunya dan karena itu dikutuk menjadi batu. Sebentuk batu di pantai Air Manis, Padang, konon merupakan sisa-sisa kapal Malin Kundang.
                Karena kepopulerannya kisah Malin Kundang berkali-kali diolah dalam berbagai bentuk, baik cerpen, drama, dan sinetron. Karya-karya adaptasi ini sangat beragam. Dramawan dan sastrawan Wisran Hai menjadikan kisah Malin Kundang sebagai dasar dalam dramanya Malin Kundang (1978) dan Puti Bungsu (1979)
·        Cerita
                Pada suatu waktu, di desa terpencil ada sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatera Barat. Karena kondisi keuangan keluarga memprihatinkan, sang Ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas. Ayah Malin tidak pernah kembali ke kampung halamannya sehingga ibunya harus menggantikan posisi ayah Malin untuk mencari nafkah.
            Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang. Karena merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Malin memutuskan untuk pergi merantau agar dapat menjadi kaya raya setelah kembali ke kampung halaman kelak.
            Awalnya Ibu Malin Kundang kurang setuju, mengingat suaminya juga tidak pernah kembali setelah pergi merantau tetapi Malin tetap bersikeras sehingga akhirnya dia rela melepas Malin pergi merantau dengan menumpang kapal seorang saudagar. Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman.
            Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang beruntung, dia sempat bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu sehingga tidak dibunuh oleh para bajak laut.
            Malin Kundang terkatung-katung di tengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan tenaga yang tersisa, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.
            Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.
Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin yang melihat kedatangan kapal itu ke dermaga melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya, Malin Kundang beserta istrinya.
            Ibu Malin pun menuju ke arah kapal. Setelah cukup dekat, ibunya melihat bekas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?", katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tetapi melihat wanita tua yang berpakaian lusuh dan kotor memeluknya, Malin Kundang menjadi marah meskipun ia mengetahui bahwa wanita tua itu adalah ibunya, karena dia malu bila hal ini diketahui oleh istrinya dan juga anak buahnya.
            Mendapat perlakukan seperti itu dari anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menyumpahkan anaknya, "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu". Tidak berapa lama kemudian Malin Kundang kembali pergi berlayar dan di tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang. Sampai saat ini Batu Malin Kundang masih dapat dilihat di sebuah pantai bernama pantai Air Manis, di selatan kota Padang, Sumatera Barat.
·        Apresiasi
                Satu bentuk karya sastra lisan Minangkabau yang telah banyak diinterpretasi oleh khalayak penikmat adalah legenda “Malin Kundang”. Meskipun telah dikenal luas, cerita legenda ini dianggap dan diyakini berasal dari daerah pesisir pantai Aie Manih (Air Manis) Padang. Hal ini disebabkan adanya batu karang di pantai tersebut yang diyakini sebagai bukti tinggalan cerita legenda ini.
            Dari segi ceritanya, “Malin Kundang”telah mendapat banyak tanggapan pembaca yang beragam terutama terhadap tema dan amanat cerita. Apresiasi terhadap “Malin Kundang” ini juga merupakan bentuk resepsi atau tanggapan pembaca. Hingga saat ini telah banyak tanggapan pembaca terhadap karya ini. Penyimpulan tema dan amanat cerita yang berubah adalah juga satu wujud resepsi.
            Dilatarbelakangi pengetahuan dan pengalamannya, penulis naskah mengapresiasi dan menginterpretasi “Malin Kundang” dalam bentuk karya baru. Selain latar belakang kondisi sosial budaya yang berbeda, tujuan akhir “Malin Kundang“.sebuah karya juga menentukan unsur-unsur karya baru tersebut. Hal inilah yang tampaknya membawa pembaca seperti Wisran Hadi yang dengan latar belakang pengalamannya dapat menampilkan “Malin Kundang” dalam bentuk yang lain, yaitu dari teks sastra lisan menjadi sebuah teks naskah drama. Berbeda dengan bentuk karya sastra prosa dan puisi, naskah drama memiliki tujuan akhir pementasan. Oleh karena itu, naskah drama sangat terbuka terhadap interpretasi untuk tujuan pementasan. Namun, penelitian ini tidak akan menyentuh aspek pementasan tersebut.  
            Dalam penelitian ini, peneliti lebih menitikberatkan pada aspek tekstual kedua objek penelitian, yaitu unsur-unsur yang ada di dalamnya dan perbandingan antarkeduanya yang pada akhirnya dapat membantu mempertajam pemahaman terhadap objek penelitian, yaitu naskah drama “Malin Kundang”. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah unsur-unsur instrinsik objek penelitian dan hal-hal yang mempengaruhi apresiasi, dan interpretasi terhadap objek penelitian yang berkelanjutan dan menyebabkan munculnya bentuk-bentuk karya baru sebagai bentuk tanggapan, respon, dan intertekstualitas.
Pembicaraan dan analisis penelitian ini terbatas pada unsur intrinsik kedua objek yaitu tokoh, tema, dan perbandingan antara kedua objek penelitian. Di samping itu, penelitian perbandingan lebih diarahkan pada hal-hal yang mempengaruhi munculnya perbedaan bentuk dan isi kedua objek penelitian dalam ruang lingkup estetika responsif dan intertekstualitas.
Tema adalah ide yang mendasari cerita sehingga berperanan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya. Oleh karenanya, dalam usaha meraih makna sebuah cerita seorang pembaca harus mampu memahami unsur-unsur dalam cerita itu tersebut.
Tokoh-tokoh dalam “Malin Kundang” dapat dikenali sebagai berikut. Pertama, tokoh utama adalah Malin Kundang. Dasar penyebutan tokoh ini sebagai tokoh utama adalah dari penggunaan nama (judul) cerita yang menggunakan nama tokoh tersebut dan intensitas penceritaan di dalam cerita “Malin Kundang”.
Oleh karena “Malin Kundang” berbentuk lisan, indikator yang diperoleh dalam analisis bukanlah dialog antartokoh, melainkan tindakan atau lakuan tokoh dalam sebuah alur cerita. Hal ini juga menunjukkan keterkaitan unsur lain dalam cerita yang turut mendukung penokohan.
            Tokoh Malin Kundang, pada awal cerita “Malin Kundang” tidak ditemukan indikator perwatakan yang jelas. Namun, dapat disimpulkan sejak kecil hingga dewasa, tokoh memiliki watak yang baik. Rasa hormat pada ibunya dapat disimpulkan dari lakuan Malin Kundang yang meminta izin ibunya saat ia berniat hendak pergi merantau. Saat seorang awak kapal menawarinya ikut menjadi awak sebuah kapal saudagar, Malin Kundang menyempatkan diri untuk pulang ke rumah dan meminta izin pada ibunya.
            Selanjutnya, watak Malin Kundang berubah. Wataknya menjadi keras hati, tak hormat pada orang yang lebih tua, pencaci, dan cenderung congkak. Hal ini bisa disebabkan oleh karena kehidupannya yang makin baik dan “Malin Kundang” derajatnya yang meningkat. Watak ini ditunjukkan saat kedatangan seorang perempuan tua yang mengaku sebagai ibu kandungnya. Malin Kundang berkeras menolak dan tidak mau mengakuinya.
            Tokoh ibu Malin Kundang juga dapat diketahui wataknya hanya melalui lakuannya. Melalui lakuannya, ibu Malin Kundang dapat disimpulkan sebagai tokoh yang menyayangi Malin Kundang anaknya. Sifat penyayang ditemukan dalam lakuannya yang selalu mengajak Malin Kundang ke mana saja ia pergi saat anaknya masih kecil. Di samping itu, izinnya pada Malin Kundang untuk pergi juga menujukkan rasa sayangnya pada anaknya itu. Mengizinkan anak untuk meraih cita-cita dan memperbaiki hidup adalah sebuah kebahagiaan bagi ibu Malin Kundang.
            Rasa sayang dan cintanya pada Malin Kundanglah yang menyebabkan ia tetap bertahan menunggu pengakuan Malin Kundang bahwa ia adalah ibunya. Ibu Malin Kundang tidak serta merta murka atas perlakuan anaknya, tetapi menunggu anaknya menyadari kesalahannya sebelum terlambat. Ibu Malin Kundang tidak mengutuk anaknya menjadi batu, tetapi menuntut hukuman setimpal atas perlakuan anaknya pada dirinya.
      2. Sage
   Menceritakan peristiwa sejarah yang sudah bercampur dengan fantasi rakyat.
   Contoh : hikayat hang tuah, sejarah melayu.
  
    3. Mite
   Menceritakan kejadian yang berakar pada kepercayaan lama
   (dewa-dewi, roh halus, atau kekuatan gaib).
   Contoh : nyi roro kidul, jaka tarub.
      
4. Fabel
   Cerita yang diperankan binatang yang memiliki watak dan budi manusia.
   Contoh : kancil yang cerdik, hikayat kalila.
      
5. Parable
   Cerita yang tokohnya binatang dan manusia
   Contoh : anjing yang loba, kancil dan pak tani.
      
6. Cerita jenaka
   Cerita yang berisi kisah lucu/jenaka.
   Contoh : cerita pak kadok, cerita lebai malang.
·        Abu Nawas
                Abu Nawas adalah tokoh cerita jenaka islam. Cerita Abu Nawas mengisahkan tentang seorang Raja Harun Al Rasyid Mengidap penyakit aneh yaitu badanya terasa kaku dan pegal, ia membuat sayembara untuk menyembuhkan penyakitnya dan datanglah Abu Nawas. Abu Nawas menyruh Raja Harun Al Rasyid mencari telur unta di Pasar Baghdad. Raja Harun Al Rasyid mencari teluh unta ke pasar  Baghdad walaupun dia harus berjalan sangat jauh. Setelah dia bertanya-tanya dengan warga sekitar ternyata Raja telah tertipu oleh Abu Nawas. Raja pun ingin menghukum Abu Nawas tetapi karena perjalanan yang ia lalui saat mencari telur membuat dia sembuh dari penyakit anehnya Abu Nawas pun tidak terkena hukuman.
            Cerita Abu Nawas dapat dibandingkan dengan kisah-kisah jenaka lainnya seperti Kabayan, Lebai Malang, ataupun Pak Belalang.
Cerita Abu Nawas telah dimasukkan ke dalam buku bertajuk "Cerita Jenaka" Perak popular yang lain seperti Pa' Kadok, Pa' Pandir, Lebai Malang,Pa' Belalang, Si-Lunchai oleh Sir R. O. Winstedt dan A. J. Sturrock pada tahun 1908. Cetakan ini telah direvisi sebanyak beberapa kali dengan edisi ketiga pada tahun 1914 dengan 159 halaman
·        Cerita Abu Nawas dan Telur Unta
                Suatu ketika Raja Harun Al Rasyid terkena penyakit aneh. Tubuh Raja Harun Al Rasyid terasa kaku dan pegal. Suhu badannya panas dan tak kuat untuk melangkah. penyakitnya itu membuat sang raja tidak mau makan sehingga sakitnya bertambah parah.
Berbagai tabib sudah berdatangan mengobatinya tetepi tetap saja sakit. Obat pun banyak yang ia minum tapi tetap saja hasilnya.
            Namun demikian, raja tidak mau menyerah. Ia ingin sembuh. Maka iapun memerintahkan pengawalnya untuk mengumumkan sebuah sayembara. Barang siapa bisa menyembuhkan penyakit sang Raja, maka akan diberikan hadiah. berita sayembara itu didengar oleh Abu Nawas. Ia tertarik dengan sayembara ini. maka tidak lama kemudian, iapun memutar otak sebentar dan pergi ke istana Raja Harun Al Rasyid.
Sang Raja terkejut ketika melihat Abu Nawas datang hendak mengobati dirinya.

” Hei Abu Nawas, setahuku kau bukan tabib, tapi mengapa kau ikut sayembara ini?”. Heran sang raja.

“He he he.. tuan raja, janganlah Anda melihat penampilanku, begini begini aku bisa mengobati orang sakit”.

“Benarkah?” kaget sang raja. “Berarti engkau bisa menyembuhkan sakitku juga?”

“Oh tentu Raja,” jawab Abu Nawas, “sebenarnya apa sakit Anda?”
“Aku juga tidak tahu, tapi aku merasa seluruh tubuhku sakit dan badanku panas. Aku tampak lesu Abu Nawas.”keluh sang raja Harun Al Rasyid.

“ha ha ha ha ha….”Abu Nawas tertawa dengan jenaka.
Hei Abu Nawas, apa yang lucu?

“tidak Tuan, kalau penyakit itu sih gampang sekali menemukan obatnya.”terang Abu Nawas.

Sungguh, kaget sang raja lagi. apa nama obat itu dan dimana saya bisa menemukan obat itu?”

baiklah saya beritahu Anda,
nama obat itu adalah telur unta. Anda bisa mendapatkannya di kota Baghdad ini.”

mendengar informasi itu sang raja merasa bersemangat ingin segera mendapatkan telur unta itu.

” hei Abu Nawas, awas jika kau bohong. Akan ku hukum kau?”
“Carilah dulu telur unta itu, jangan asal hukum saja” sanggah Abu Nawas.

Keesokan harinya sang raja berangkat dengan pengawalnya. Ia memakai baju rakyat biasa karena tidak ingin diketahui bahwa ia seorang raja.

Raja Harun Al Rasyid mengunjungi pasar-pasar yang ada di daerah baghdad tapi tidak ditemukan telur unta itu.

Raja Harun Al Rasyid tidak mau menyerah ia terus berjalan kerumah-rumah warga tapi tetap saja ia tidak menemukan telur unta. semangat Raja Harun Al Rasyid ini sungguh kuat sekali, ia tidak peduli seberapa jauh jarak yang ia tempuh untuk mencari telur unta. Hingga akhirnya ia sampai disebuah hutan.

Raja terus berjalan tanpa menghiraukan pengawalnya yang sudah kelelahan. sambil menggerutu ia tetap berfikir dimanakah telur unta itu berada.

” Awas kau Abu Nawas, kalau aku tidak menemukan telur itu akan ku hukum kau!” gerutu sang raja. Pengawal bersiaplah menghukum Abu Nawas besok!”

“Siap raja,” kata pengawal yang sudah kelelahan,”tapi lebih baik kita pulang saja sekarang. memang sepertinya kita tidak menemukan telur itu.”

Raja Harun Al Rasyid pun mempertimbangkan saran pengawalnya, namun beberapa saat kemudian ia melihat seorang kakek yang sedang membawa ranting.

“Tunggu dulu pengawal, kita coba tanyakan kepada satu orang lagi.”seru raja Harun Al Rasyid.

Sang Raja menghampiri kakek yang membawa ranting itu. melihat kondisinya yang sudah tua ia amat kasihan, maka iapun menawarkan jasanya untuk membawakan kayu-kayu itu.

setelah sampai dirumahnya, Sang kakek mengucapkan terima kasih kepada Raja Harun Al-Rasyid yang ia tidak menyangka bahwa ia adalah seorang raja.

” Terima kasih cuk, semoga Allah membalas kebaikan Cucuk?”
“Sama-sama kek,” jawab Raja Harun Al Rasyid.

” Oh iya kek, saya mau bertanya, apakah kakek punya telur unta” tanya raja Haru Al Rasyid pada si kakek.

Telur unta? sang kakek kemudian berfikir sejenak.
“Ha Ha Ha Ha Ha…”tawa sang kakek. Raja Harun Al Rasyid pun keheranan dan bertanya kepada sang kakek.

“Apa saya salah tanya kek? tanya Raja harun Al Rasyid keheranan.” bisa Anda jelaskan?’

Cuk, di dunia ini mana ada telur unta. setiap hewan yang bertelinga itu melahirkan bukan bertelur. jadi mana ada telur unta.

Mendengar penjelasan dari sang kakek membuat sang raja dan pengawalnya tersentak kaget.

“Benar juga mana ada telur unta. unta kan binatang yang melahirkan bukan bertelur.” gumam sang raja.
“Awas kau Abu Nawas!”
Keesokan harinya sang raja dengan perasaan kesal menunggu kedatangan Abu Nawas yang telah mengerjainya. dia mondar-mandir kesana kemari sambil mulutnya komat-kamit.

”Awas kau Abu Nawas! awas kau Abu Nawas!”
Beberapa saat kemudian, Abu Nawas datang. Ia memberi senyum jenaka kepada Raja Harun Al Rasyid.Raja Harun Al rasyid langsung memarahinya.

“Hai kau Abu Nawas, beraninya mengerjai ku. aku tidak terima ini. sesuai dengan kesepakatan kita bahwa Aku akan menghukummu karena kau telah membohongiku. mana ada telur unta, unta itu hewan yang melahirkan bukan bertelur.”

Anda benar Tuan Raja, sahut Abu Nawas membenarkan pernyataan raja Harun Al Rasyid “telur unta itu sebenarnya tidak ada, unta hewan yang melahirkan bukan bertelur.” Sambung Abu Nawas dengan Ceritanya.

“Lantas, mengapa kau menyuruhku untuk mencari telur itu?”sanggah sang raja “pokokya sekarang kamu harus dihukum.”
“Tunggu dulu, tuan raja, sebelum saya dihukum, saya ingin bertanya.
tanya apa?

“Bagaimana kondisi tubuh tuan raja hari ini?” tanya Abu Nawas.
“Kondisi badanku”, sahut raja Harun Al Rasyid, “aku merasa tubuhku tidak pegal dan sakit seperti kemarin-kemarin. suhu badanku pun turun, Sang raja pun terdiam sejenak”.

“Abu Nawas, aku sudah sembuh, penyakitku hilang, penyakitku hilang Abu Nawas. “raja amat gembira mendengar cerita Abu Nawas.

“Aku tahu,” perjalananku yang amat jauh kemarin telah membuat tubuh-tubuhku yang tadinya jarang bergerak menjadi bergerak dan itu membuat aliran darahku yang semula beku menjadi lancar kembali. benar Abu Nawas, itu penyebabnya, terima kasih Abu Nawas. sahut raja Harun Al Rasyid.”

“Benar tuan, kata Abu Nawas, tubuh yang tidak dibiasakan bergerak akan membuat darah membeku dan akhirnya menjadi penyakit. maka dari itu raja, rajinlah bergerak.”

“ya, memang akhir-akhir ini aku sering dikamar. jarang bergerak. kemudian aku juga banyak makan. mungkin ini yang menyebabkan aku sakit. kata sang Raja Harun Al Rasyid.” Abu Nawas maafkan aku telah memarahimu. Aku tidak akan menghukummu tapi aku akan memberikanmu hadiah karena telah memberiku sarang yang luar biasa.”

“Terima kasih tuan raja.” Jawab Abu Nawas singkat.
Banyak makna dan pembelajaran yang kita bisa dapat dari Cerita Jenaka Abu Nawas dan telur Unta tersebut, salah satunya adalah membiasakan diri untuk tidak santai dan bermalas-malasan karena dapat mendatangkan berbagai macam penyakit. Semoga salah satu dari Koleksi Cerita Abu Nawas ini bermanfaat.


·        Apresiasi
            Nama Abu Nawas begitu populernya sehingga cerita-cerita yang mengandung homor banyak yang dinisbatkan berasal dari Abu Nawas.Tokoh semacam Abu Nawas yang mampu mengatasi berbagai persoalan rumit dengan sytle humor atau bahkan humor politis ternyata juga tidak hanya ada di negeri Baghdad. Kita mengenal Syekh Juha yang hampir sama piawainya dengan Abu Nawas juga Nasarudin Hoja yang sufi yang lucu namun cerdas. Kita juga mengela Kabayari di Jawa Barat yang konyol namun ternyata juga cerdas.
            Abu Nawas setelah matipun masih bisa membuat orang tertawa. Didepan makamnya ada pintu gerbang yang terkunci dengan gembok besar sekali. Namun kanan dan kiri pintu gerbang itu pagarnya bolong sehingga orang bisa leluasa masuk untuk berziarah ke makamnya. Apa maksudnya dia berbuat demikian, mungkin itu adalah simbol watak Abu Nawas yang sepertinya tertutup namun sebenarnya terbuka, ada sesuatu yang minteri pada diri Abu Nawas, ia sepertinya bukan orang biasa, bahkan ada yang menyakini bahwa dari kesederhanaanya ia adalah seorang sufi namun ia tetap dekat dengan rakyat jelata bahkan konsis membela mereka yang lemah dan tertindas.




                              KESIMPULAN
                Dari pembahasan – pembahasan yagn telah dilakukan dapat kita simpulkan bahwa karya sastra melayu klasik adalah termasuk prosa lama yagn masih sangat terikat dan mempunyai karakteristik tersendiri. Sastra melayu klasik masih sangat kental mengandung pesan moral. Nilai – nilai sosial budaya, dan adat – istiadat daerah.
Sastra melayu klasik sangat berbeda dengan novel terjemahan. Dilihat dari segi ciri – ciri maupun nilai – nilai yang terkandung didalamya. Walaupun di satu sisi memiliki kesamaan yagn dilihat dari segi unsur intirinsik dan ekstrinsik.
Dalam penyebarannya novel terjemahan masih lebih banyak disukai di masyarakat di banding sastra melayu.


DAFTAR PUSTAKA
Karya Sastra Melayu Klasik :

Cerita Rakyat :





            

Bahasa Indonesia


PUISI KARYA WS RENDRA

Bersatulah Pelacur Kota
Karya: WS. RENDRA

Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Dari kelas tinggi dan kelas rendah
Telah diganyang
Telah haru-biru
Mereka kecut
Keder
Terhina dan tersipu-sipu
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kaurelakan dirimu dibikin korban

Wahai pelacur-pelacur kota Jakarta
Sekarang bangkitlah
Sanggul kembali rambutmu
Karena setelah menyesal
Datanglah kini giliranmu
Bukan untuk membela diri melulu
Tapi untuk lancarkan serangan
Karena
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kaurela dibikin korban

Sarinah
Katakan kepada mereka
Bagaimana kau dipanggil ke kantor menteri
Bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu
Tentang perjuangan nusa bangsa
Dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal
Ia sebut kau inspirasi revolusi
Sambil ia buka kutangmu

Dan kau Dasima
Khabarkan pada rakyat
Bagaimana para pemimpin revolusi
Secara bergiliran memelukmu
Bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi
Sambil celananya basah
Dan tubuhnya lemas
Terkapai disampingmu
Ototnya keburu tak berdaya

Politisi dan pegawai tinggi
Adalah caluk yang rapi
Kongres-kongres dan konferensi
Tak pernah berjalan tanpa kalian
Kalian tak pernah bisa bilang ‘tidak’
Lantaran kelaparan yang menakutkan
Kemiskinan yang mengekang
Dan telah lama sia-sia cari kerja
Ijazah sekolah tanpa guna

Para kepala jawatan
Akan membuka kesempatan
Kalau kau membuka kesempatan
Kalau kau membuka paha
Sedang diluar pemerintahan
Perusahaan-perusaha an macet
Lapangan kerja tak ada
Revolusi para pemimpin
Adalah revolusi dewa-dewa
Mereka berjuang untuk syurga
Dan tidak untuk bumi
Revolusi dewa-dewa
Tak pernah menghasilkan
Lebih banyak lapangan kerja

Bagi rakyatnya
Kalian adalah sebahagian kaum penganggur yang mereka ciptakan

Namun
Sesalkan mana yang kau kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kau rela dibikin korban
Pelacur-pelacur kota Jakarta
Berhentilah tersipu-sipu
Ketika kubaca di koran
Bagaimana badut-badut mengganyang kalian
Menuduh kalian sumber bencana negara
Aku jadi murka
Kalian adalah temanku
Ini tak bisa dibiarkan


Astaga
Mulut-mulut badut
Mulut-mulut yang latah bahkan seks mereka politikkan
Saudari-saudariku
Membubarkan kalian
Tidak semudah membubarkan partai politik
Mereka harus beri kalian kerja
Mereka harus pulihkan darjat kalian
Mereka harus ikut memikul kesalahan

Saudari-saudariku. Bersatulah
Ambillah galah
Kibarkan kutang-kutangmu dihujungnya
Araklah keliling kota
Sebagai panji yang telah mereka nodai
Kinilah giliranmu menuntut
Katakanlah kepada mereka
Menganjurkan mengganyang pelacuran
Tanpa menganjurkan
Mengahwini para bekas pelacur
Adalah omong kosong

Pelacur-pelacur kota Jakarta
Saudari-saudariku
Jangan melulur keder pada lelaki
Dengan mudah
Kalian bisa telanjangi kaum palsu
Naikkan tarifmu dua kali
Dan mereka akan klabakan
Mogoklah satu bulan
Dan mereka akan puyeng
Lalu mereka akan berzina
Dengan isteri saudaranya.






Surat Cinta

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
bagai bunyi tambur yang gaib,
Dan angin mendesah
mengeluh dan mendesah,
Wahai, dik Narti,
aku cinta kepadamu !

Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya,
Wahai, dik Narti,
kupinang kau menjadi istriku !

Kaki-kaki hujan yang runcing
menyentuhkan ujungnya di bumi,
Kaki-kaki cinta yang tegas
bagai logam berat gemerlapan
menempuh ke muka
dan tak kan kunjung diundurkan

Selusin malaikat
telah turun
di kala hujan gerimis
Di muka kaca jendela
mereka berkaca dan mencuci rambutnya
untuk ke pesta
Wahai, dik Narti
dengan pakaian pengantin yang anggun
bunga-bunga serta keris keramat
aku ingin membimbingmu ke altar
untuk dikawinkan
Aku melamarmu,
Kau tahu dari dulu:
tiada lebih buruk
dan tiada lebih baik
dari yang lain...
penyair dari kehidupan sehari-hari,
orang yang bermula dari kata
kata yang bermula dari
kehidupan, pikir dan rasa

Semangat kehidupan yang kuat
bagai berjuta-juta jarum alit
menusuki kulit langit:
kantong rejeki dan restu wingit
Lalu tumpahlah gerimis
Angin dan cinta
mendesah dalam gerimis.
Semangat cintaku yang kuta
batgai seribu tangan gaib
menyebarkan seribu jaring
menyergap hatimu
yang selalu tersenyum padaku

Engkau adalah putri duyung
tawananku
Putri duyung dengan
suara merdu lembut
bagai angin laut,
mendesahlah bagiku !
Angin mendesah
selalu mendesah
dengan ratapnya yang merdu.
Engkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku
Wahai, putri duyung,
aku menjaringmu
aku melamarmu

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
kerna langit
gadis manja dan manis
menangis minta mainan.
Dua anak lelaki nakal
bersenda gurau dalam selokan
dan langit iri melihatnya
Wahai, Dik Narti
kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku


Rumpun Alang-alang

Engkaulah perempuan terkasih, yang sejenak kulupakan, sayang
Kerna dalam sepi yang jahat tumbuh alang-alang di hatiku yang malang
Di hatiku alang-alang menancapkan akar-akarnya yang gatal
Serumpun alang-alang gelap, lembut dan nakal

Gelap dan bergoyang ia
dan ia pun berbunga dosa
Engkau tetap yang punya
tapi alang-alang tumbuh di dada



Makna sebuah titipan

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,


kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...
"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"



SAJAK BULAN MEI 1998 DI INDONESIA

Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja
Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan
Amarah merajalela tanpa alamat
Kelakuan muncul dari sampah kehidupan
Pikiran kusut membentur simpul-simpul sejarah

O, zaman edan!
O, malam kelam pikiran insan!
Koyak moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan
Kitab undang-undang tergeletak di selokan
Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan

O, tatawarna fatamorgana kekuasaan!
O, sihir berkilauan dari mahkota raja-raja!
Dari sejak zaman Ibrahim dan Musa
Allah selalu mengingatkan
bahwa hukum harus lebih tinggi
dari ketinggian para politisi, raja-raja, dan tentara

O, kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan!
O, rasa putus asa yang terbentur sangkur!
Berhentilah mencari Ratu Adil!
Ratu Adil itu tidak ada. Ratu Adil itu tipu daya!
Apa yang harus kita tegakkan bersama
adalah Hukum Adil
Hukum Adil adalah bintang pedoman di dalam prahara

Bau anyir darah yang kini memenuhi udara
menjadi saksi yang akan berkata:
Apabila pemerintah sudah menjarah Daulat Rakyat
apabila cukong-cukong sudah menjarah ekonomi bangsa
apabila aparat keamanan sudah menjarah keamanan
maka rakyat yang tertekan akan mencontoh penguasa
lalu menjadi penjarah di pasar dan jalan raya

Wahai, penguasa dunia yang fana!
Wahai, jiwa yang tertenung sihir tahta!
Apakah masih buta dan tuli di dalam hati?
Apakah masih akan menipu diri sendiri?
Apabila saran akal sehat kamu remehkan
berarti pintu untuk pikiran-pikiran kalap
yang akan muncul dari sudut-sudut gelap
telah kamu bukakan!

Cadar kabut duka cita menutup wajah Ibu Pertiwi
Airmata mengalir dari sajakku ini.

SAJAK SEBATANG LISONG

menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukung mengangkang
berak di atas kepala mereka

matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak - kanak
tanpa pendidikan

aku bertanya
tetapi pertanyaan - pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis - papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan

delapan juta kanak - kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
????????..

menghisap udara
yang disemprot deodorant
aku melihat sarjana - sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiunan

dan di langit
para teknokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa mesti dibangun
mesti di up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

gunung - gunung menjulang
langit pesta warna di dalam senjakala
dan aku melihat
protes - protes yang terpendam
terhimpit di bawah tilam

aku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair - penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan rembulan
sementara ketidak adilan terjadi disampingnya
dan delapan juta kanak - kanak tanpa pendidikan
termangu - mangu di kaki dewi kesenian

bunga - bunga bangsa tahun depan
berkunang - kunang pandang matanya
di bawah iklan berlampu neon
berjuta - juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samodra
???????????

kita mesti berhenti membeli rumus - rumus asing
diktat - diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa - desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata

inilah sajakku
pamplet masa darurat
apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan

Perempuan yang Tergusur

Hujan lebat turun di hulu subuh
disertai angin gemuruh
yang menerbangkan mimpi
yang lalu tersangkut di ranting pohon

Aku terjaga dan termangu
menatap rak buku-buku
mendengar hujan menghajar dinding
rumah kayuku.
Tiba-tiba pikiran mengganti mimpi
dan lalu terbayanglah wajahmu,
wahai perempupan yang tergusur!


Tanpa pilihan
ibumu mati ketika kamu bayi
dan kamu tak pernah tahu siapa ayahmu.
Kamu diasuh nenekmu yang miskin di desa.
Umur enam belas kamu dibawa ke kota
oleh sopir taxi yang mengawinimu.
Karena suka berjudi
ia menambah penghasilan sebagai germo.

Ia paksa kamu jadi primadona pelacurnya.
Bila kamu ragu dan murung,
lalu kurang setoran kamu berikan,
ia memukul kamu babak belur.
Tapi kemudian ia mati ditembak tentara
ketika ikut demontrasi politik
sebagai demonstran bayaran.

Sebagai janda yang pelacur
kamu tinggal di gubuk tepi kali
dibatas kota
Gubernur dan para anggota DPRD
menggolongkanmu sebagai tikus got
yang mengganggu peradaban.
Di dalam hukum positif tempatmu tidak ada.
Jadi kamu digusur.

Didalam hujuan lebat pagi ini
apakah kamu lagi berjalan tanpa tujuan
sambhil memeluk kantong plastik
yang berisi sisa hartamu?
Ataukah berteduh di bawah jembatan?


Impian dan usaha
bagai tata rias yang luntur oleh hujan
mengotori wajahmu.
kamu tidak merdeka.
Kamu adalah korban tenung keadaan.
Keadilan terletak diseberang highway yang bebahaya
yang tak mungkin kamu seberangi.

Aku tak tahu cara seketika untuk membelamu.
Tetapi aku memihak kepadamu.
Dengan sajak ini bolehkan aku menyusut keringat dingin
di jidatmu?

O,cendawan peradaban!
O, teka-teki keadilan!

Waktu berjalan satu arah saja.
Tetapi ia bukan garis lurus.
Ia penuh kelokan yang mengejutkan,
gunung dan jurang yang mengecilkan hati,
Setiap kali kamu lewati kelokan yang berbahaya
puncak penderitaan yang menyakitkan hati,
atau tiba di dasar jurang yang berlimbah lelah,
selalu kamu dapati kedudukan yang tak berubah,
ialah kedudukan kaum terhina.

Tapi aku kagum pada daya tahanmu,
pada caramu menikmati setiap kesempatan,
pada kemampuanmu berdamai dengan dunia,
pada kemampuanmu berdamai dengan diri sendiri,
dan caramu merawat selimut dengan hati-hati.

Ternyata di gurun pasir kehidupan yang penuh bencana
semak yang berduri bisa juga berbunga.
Menyaksikan kamu tertawa
karena melihat ada kelucuan di dalam ironi,
diam-diam aku memuja kamu di hati ini.